Transformasi Sangkar Burung Eank Solo, Manfaatkan Limbah Jadi Berkah

Posted on

Inspirasi dari Limbah, Mengubah Pipa Bekas Menjadi Sangkar Burung yang Mewah

Di bengkel sederhana di Mojosongo, Solo, terdapat tumpukan pipa paralon bekas yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Namun, dengan kreativitas dan ketekunan, Eko Alif Muryanto berhasil mengubahnya menjadi sangkar burung yang menarik dan tahan lama. Tampilannya yang rapi dengan ukiran melingkar di setiap sisinya membuat sangkar ini tampak mewah, meskipun terbuat dari bahan yang awalnya hanya dianggap sebagai sampah.

Bukan hanya soal tampilan, Eko juga mengklaim bahwa sangkar berbahan paralon buatannya lebih kuat dan tahan lama dibanding sangkar kayu, bambu, maupun rotan. “Kalau kena air tidak gampang lapuk. Perawatannya juga lebih mudah,” katanya saat ditemui di bengkel kerjanya.

Di sudut ruangan, potongan paralon bekas tersusun rapi. Sebagian sudah dipotong kecil, sebagian lain menunggu dirangkai menjadi sangkar. Suara mesin gerinda sesekali terdengar memecah suasana. Di sudut ruangan, beberapa rangka sangkar setengah jadi tampak sedang dalam proses penyelesaian.

Berawal dari Tumpukan Limbah

Sebelum menekuni usaha sangkar burung, Eko lebih dulu berdagang onderdil mobil di Pasar Klitikan Semanggi. Dari aktivitasnya itu, ia kerap bertemu pengepul barang bekas dan melihat berbagai limbah yang masih bisa dimanfaatkan. Salah satunya adalah tumpukan pipa paralon bekas yang kala itu hanya dibiarkan menumpuk.

“Waktu itu saya lihat sayang kalau dibuang begitu saja. Bahannya sebenarnya masih kuat,” ujarnya. Ide membuat sangkar burung muncul pada 2012 setelah melihat iklan pipa PVC di televisi. Dalam iklan tersebut, pipa digambarkan memiliki daya tahan kuat meski diinjak beban berat. “Saya langsung kepikiran, kalau bahannya sekuat itu kenapa nggak dicoba buat sangkar burung,” katanya sambil tersenyum.

Awal yang Tidak Mudah

Pada awal merintis usaha, Eko mengaku tidak mudah meyakinkan pembeli. Banyak orang meragukan sangkar berbahan pipa bekas bisa memiliki kualitas bagus. Bahkan, ada yang menganggap produknya aneh karena berbeda dari sangkar pada umumnya. “Awalnya banyak yang belum yakin. Karena biasanya sangkar identik dengan bambu atau kayu,” ujarnya.

Meski begitu, Eko tetap mencoba memasarkan produknya secara perlahan. Ia mulai menawarkan sangkar buatannya ke pasar burung dan komunitas penghobi burung di Solo. Seiring waktu, pembeli mulai datang kembali setelah mencoba kualitas sangkar buatannya. Menurut Eko, ketahanan produk menjadi salah satu alasan pelanggan bertahan.

Berkembang dengan Bantuan Rumah BUMN Solo

Perkembangan usahanya mulai terasa setelah bergabung dengan Rumah BUMN Solo pada 2017. Sebelumnya, pemasaran hanya mengandalkan relasi antar pedagang dan penjualan langsung di pasar. Melalui pelatihan yang diikutinya, Eko mulai belajar menggunakan media sosial dan marketplace untuk memasarkan produk. Ia juga mulai memahami cara berkomunikasi dengan calon pembeli dari luar negeri.

“Dulu saya nggak paham soal pemasaran online. Pelan-pelan belajar dari situ,” tuturnya. Video promosi pertama bahkan dibuat menggunakan fasilitas komputer di Rumah BUMN Solo. Dari situ, pesanan mulai datang dari luar daerah hingga luar negeri.

Keberhasilan dan Penghargaan

Kini, Eko memproduksi berbagai jenis sangkar dengan ukuran berbeda. Harga jualnya mulai Rp350 ribu hingga Rp2,5 juta tergantung model dan tingkat kerumitan. Dalam proses produksi, ia juga melibatkan pekerja di sekitar tempat tinggalnya. Usaha yang dirintis Eko turut membawanya meraih sejumlah penghargaan, seperti Juara Program BRIncubator 2018 dan Industry Innovation Award 2021 kategori Dampak Lingkungan.

Selain itu, produknya juga pernah tampil dalam program UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR untuk UMKM unggulan. Meski usahanya berkembang, Eko mengaku tetap ingin berbagi pengalaman dengan pelaku UMKM lain. Ia beberapa kali diundang menjadi pembicara di kampus maupun komunitas usaha untuk berbagi pengalaman seputar pemasaran dan ekspor.

Pendampingan Rumah BUMN Solo

Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, mengatakan pendampingan kepada UMKM tidak hanya soal penjualan, tetapi juga membangun kesiapan usaha agar mampu berkembang lebih jauh. Menurutnya, banyak pelaku UMKM yang memiliki produk bagus, tetapi belum memahami pemasaran digital maupun pengembangan usaha. “Kami membantu lewat pelatihan, pendampingan, sampai membuka akses jejaring usaha,” kata Condro.

Hingga kini terdapat sekitar 85.157 UMKM yang terdaftar pada rumahbumn.id. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 UMKM aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya. Jumlah mitra terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat menurun saat pandemi COVID-19. Pasca pandemi, muncul banyak UMKM baru dari kalangan produktif, seperti mahasiswa dan lulusan baru.

Rumah BUMN Solo juga berperan dalam peningkatan daya saing dan akses pasar bagi UMKM. Mereka menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk mendukung pemasaran daring. Pelatihan yang diberikan mencakup public speaking, konten digital, dan editing video untuk menunjang promosi. “Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro.

Produk mitra binaan juga sering diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk saat ada kunjungan direksi BRI atau pejabat kementerian. Beberapa produk unggulan bahkan sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Kanada. Kolaborasi menjadi prinsip utama dalam kerja Rumah BUMN Solo, sesuai arahan Kementerian BUMN. Selain itu, Rumah BUMN Solo juga mendukung program tahunan BRI seperti BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dan calon buyer dari luar negeri.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun kesadaran UMKM tentang pentingnya peningkatan keterampilan usaha. Condro menilai, pelatihan harus dikemas menarik agar UMKM tertarik belajar dan meningkatkan kapasitas mereka. “Kami tidak ingin usaha mereka sekadar untung sesaat, tapi bisa bertahan bahkan sampai ke generasi berikutnya,” tambahnya.

Ke depan, Rumah BUMN Solo berkomitmen untuk terus memberikan dukungan berupa ilmu, keterampilan, dan akses jejaring bisnis bagi para UMKM. Keberadaan Rumah BUMN Solo membawa manfaat bagi ribuan UMKM, juga menjadi rumah kedua para pelaku usahanya. Di antaranya yang berhasil mengembangkan sayap adalah UMKM Lintang Kejora milik Rina Sulistyaningsih asar Kampung Baru hingga Sangkar Burung Eank Solo milik Eko Allif Muryanto asal Mojosongo yang telah mengirim produknya hingga ke Belgia. Masih banyak lagi UMKM binaan Rumah BUMN Solo yang telah mandiri dan menjadi inspirasi UMKM lainnya di Solo Raya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *