Perasaan Kesepian dan Terisolasi yang Meningkat Akibat Penutupan Victoria Park
Sejumlah mahasiswa internasional merasa khawatir jika rasa kesepian dan terisolasi mereka akan semakin parah, karena penutupan Victoria Park untuk pembangunan stadion Olimpiade baru Brisbane. Taman tersebut menjadi ruang penting bagi banyak mahasiswa asing, khususnya dari Indonesia, sebagai tempat untuk relaksasi dan bertemu dengan komunitas.
Taman sebagai Ruang Kehidupan
Yesika Maya Ocktarani, mahasiswa PhD asal Indonesia, mengatakan bahwa Victoria Park adalah tempat yang sangat berharga baginya. Ia menyebutnya sebagai tempat yang baik untuk memulihkan diri. “Tidak ada bandingannya,” katanya. Akses publik ke sebagian besar area taman yang berada di sisi utara pusat kota Brisbane (CBD) sudah ditutup sejak Mei, ketika pembangunan stadion senilai AU$3,6 miliar dimulai.
Perbedaan pendapat terjadi di antara masyarakat Brisbane soal lokasi stadion berkapasitas 63.000 kursi, yang akan jadi tuan rumah Olimpiade Brisbane 2032 mendatang. Kelompok masyarakat adat Aborigin mengatakan lokasi tersebut memiliki makna budaya yang mendalam.
Pengaruh pada Komunitas Mahasiswa Internasional
Yesika, yang tinggal di dekat taman, rutin mengunjungi Victoria Park baik untuk relaksasi pribadi maupun kegiatan komunitas. Ia mengatakan bahwa ia awalnya merasa terisolasi setelah tiba di Brisbane pada Februari 2023, tetapi menemukan dukungan melalui kelompok mahasiswa Indonesia yang sering berkumpul di taman tersebut. “Untuk mengisi kekosongan dan rasa kesepian saat menjadi mahasiswa PhD,” katanya. “Ketika kami bertemu mahasiswa Indonesia lainnya, lalu membicarakan tantangan hidup sebagai mahasiswa PhD, rasanya … baik untuk kesehatan mental kami.”
Ia juga menyebut bahwa Victoria Park memiliki banyak area yang memungkinkan orang untuk berkumpul. Memindahkan kegiatan ke taman lain di sekitar lokasi bukanlah pilihan, karena taman-taman lainnya terlalu kecil dan tidak memiliki fasilitas yang sama, seperti area barbekyu dan taman bermain.
Kenangan dan Rasa Keterikatan
Micky Mai, mahasiswa master QUT asal Vietnam, mengatakan bahwa taman tersebut sebelumnya membantu mahasiswa internasional membangun pertemanan dan merasa terhubung dengan komunitas. “Bagi saya, Victoria Park lebih dari sekadar taman umum,” kata Micky. “Tempat itu melambangkan persahabatan, rasa memiliki, dan beberapa kenangan paling bahagia saya sebagai mahasiswa internasional.” Salah satu kenangan favoritnya adalah menghadiri Festival Pertengahan Musim Gugur bersama teman-temannya di taman tersebut.
Alifina Izza, presiden asosiasi mahasiswa Indonesia di University of Queensland (UQ), menyetujui pandangan Micky dan Yesika. Ia mengatakan keterlibatan mahasiswa internasional dalam organisasi penting bagi kesehatan mental banyak orang. Akses mudah ke tempat berkumpul seperti taman tersebut juga membantu dirinya dan mahasiswa lain beradaptasi dengan kehidupan di Australia.
Dampak pada Minat Mahasiswa Asing
Aidan Estes, mahasiswa PhD asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa area hijau menjadi salah satu pertimbangannya saat memilih tempat belajar. Ia sebelumnya sering bersepeda melewati Victoria Park dari rumahnya di kawasan Herston menuju kampus QUT Kelvin Grove. “Salah satu hal utama yang saya cari ketika ingin pindah ke sebuah kota adalah apakah kota itu memiliki banyak ruang hijau,” katanya. “Memiliki ruang hijau seperti itu terasa menyenangkan… dan sedikit mengingatkan saya pada rumah.”
Weihong Liang, presiden International Students Representative Council of Australia (ISRC), mengatakan bahwa tertutupnya ruang komunitas memiliki dampak panjang dan dapat berdampak lebih luas, bukan sekadar hilangnya tempat berkumpul secara fisik. Menurutnya, hal itu juga dapat memengaruhi “rasa keterkaitan” mahasiswa internasional terhadap kota tersebut serta kemampuan mereka berpartisipasi dalam kehidupan komunitas di luar kampus.
Pentingnya Ruang Hijau bagi Kesejahteraan
Dr Mark Limb, dosen perencanaan kota QUT, mengatakan akses terhadap taman sangat penting bagi kesejahteraan bukan hanya mahasiswa internasional, tetapi juga semua orang yang tinggal di apartemen atau akomodasi dengan akses terbatas terhadap taman dan ruang hijau. “Terutama bagi mahasiswa, karena mereka biasanya berusaha menghemat uang,” katanya, sambil menekankan kalau taman adalah ruang pertemuan gratis.
Evelynd, mahasiswa PhD di QUT, tinggal bersama dua orang lainnya dan hanya memiliki balkon kecil di tempat yang ia sewa. Karenanya, ruang hijau di dekatnya, seperti Victoria Park menjadi “sangat berharga.” “Hal yang paling berkesan bagi saya ketika pertama kali datang ke sini adalah betapa luasnya tempat ini, lalu betapa terbuka dan santainya suasana di sini,” katanya. “Seperti paru-paru Brisbane.”
Alternatif untuk Bertemu dan Beradaptasi
Diaswati Mardiasmo, anggota Brisbane Olympics and Paralympics 2032 Legacy Committee, mengatakan bahwa rasa kehilangan mahasiswa internasional terhadap Victoria Park adalah sesuatu yang “valid” dan “dapat dipahami”. Namun, Dr Mardiasmo, yang juga merupakan bagian dari diaspora Indonesia di Brisbane, mengatakan perasaan jika Victoria Park lebih dari sekadar taman “bukan hanya dirasakan mahasiswa internasional”. Ia mendorong mahasiswa dan kelompok komunitas untuk mempertimbangkan pilihan lain, termasuk Roma Street Parkland, King Edward Park, Centenary Place Park, dan South Bank Parklands. “Bukan tempatnya yang membuat seseorang merasa seperti di rumah, tetapi orang-orang di dalamnya yang membuatnya terasa seperti rumah,” katanya.





