KABAR BANTEN – Tercatat dalam sejarah, bahwa sebuah rekayasa dilakukan untuk membangun tata air dalam skala besar untuk pertanian intensif di pesisir Banten. Pembangunan itu diprakarsai Sultan Ageng yang bergelar Tirtayasa.
Melalui pendekatan ekskavasi bukti-bukti jejak hidro-arkeologi ditemukan kembali, tersebar di antara Sungai Ciujung, Sungai Cidurian dan Sungai Cipasilihan. Ragam peninggalan antara lain berupa bekas kanal-kanal, tanggul buatan, jembatan, pintu air, dan bangunan pengontrol air.
Seperti dikutip Kabar Banten dari kanal Youtube Mang Dhepi Channel, berikut pengelolaan air di masa Kesultanan Banten di Abad ke-17.
Pendekatan adaptasi manusia dan lingkungan digunakan untuk menjelaskan kemampuan teknik membangun tata air, yang merupakan tindakan dan konsekuensi dari upaya mengatasi problem situasi lingkungan setempat, dan menyatukannya dalam sebuah sistem besar.
Rekayasa teknologi hidrolika ini, diselenggarakan untuk mendukung kebutuhan pangan. Bukti-bukti itu, menunjukan ketangguhan rekayasa pengelolaan tata air, pada masa itu.
Bagi masyarakat pesisir dan agraris seperti Banten, air bukan sekadar aliran sungai akan tetapi penentu hidup matinya sawah, tambak, dan dapur rakyat.
Kesultanan Banten mengelola air ini menjadi bukti bagaimana Sultan-sultan Banten dahulu piawai dalam mengelola air sehingga Kesultanan Banten berada di puncak kejayaan.
Air sebagai sumber kehidupan, membuktikan sejak dulu bahwa tanpa air peradaban tak akan pernah tumbuh dan bertahap.
Di tanah Banten pada masa kejayaan kesultanan, air bukan sekedar kebutuhan sehari-hari, melainkan nadi utama yang menggerakkan pertanian, perdagangan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Jauh sebelum teknologi modern hadir, para sultan Banten telah menata sistem pengelolaan air dalam penuh perhitungan. Sungai, saluran irigasi, hingga kolam dan bendungan dimanfaatkan untuk mengairi sawah, tambak ikan, serta menopang aktivitas pelabuhan di pesisir utara.
Semua diatur dengan kesadaran bahwa air harus dijaga alirannya, kualitasnya, dan berkelanjutan. Tata kelola air pada masa itu tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan kebijakan politik, kearifan lokal, serta nilai-nilai spiritual yang menghormati alam.
Sungai bukan hanya jalur air, tetapi jalur kehidupan menghubungkan wilayah hulu dan hilir, kerajaan dan rakyat, manusia, dan lingkungan. Kesultanan Banten dipandang sebagai salah satu negeri terkemuka yang menandai kejayaan Asia.
Dalam kesaksiannya, Tomy Pires menyatakan bahwa Banten pemasok lada paling baik di Asia. Episode puncak kemajuan Kesultanan Banten hanya berlangsung sampai penghujung abad ke-17 ketika Kesultanan Banten berstatus sebagai negeri yang mandiri.
Bila mencermati sejarahnya, ditemukan kenyataan bahwa para sultan tidak hanya giat membangun jaringan niaga mereka. tapi juga melakukan perubahan pengembangan setempat untuk kepentingan dalam negerinya.
Sisi lain dari kekuatan negeri kesultanan yang selama ini luput dari perhatian adalah pertanian di Kesultanan Banten. Pertanian irigasi berskala besar telah dilakukan secara intensif di Kesultanan Banten.
Penyelenggaraan pertanian irigasi di Kesultanan Banten sebenarnya adalah sesuatu yang wajar sebagai negeri yang berupaya memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang cenderung meningkat.
Namun juga tidak dapat dilupakan bahwa tradisi mengelola air dan bertani sudah dilakukan pendahuluannya. Kesultanan ini menempati bagian dari Jawa Dwipa sebuah nama Sansekerta yang berarti Pulau Padi.
Tradisi bertani di pulau sudah berlangsung lama. Wajah agraris yang tercatat dalam kronik Cina Chuvanci sebuah rekaman tentang negeri asing dari abad ke-12 sampai 13 Masehi, tercatat bahwa Sopo atau Jawa adalah tempat yang cocok untuk menyelenggarakan petani hasilnya antara lain padi, serat rami, cantel yang berupa jenis padi-padian, dan kacang-kacangan.
Sumber tulis setempat memuat konfirmasi mengenai hal itu, malah merujuk pada masa yang lebih awal dari sumber Cina. Dapat disebut di sini beberapa prasasti yang memuat rekaman tindakan yang berkaitan dengan pengolahan air dan pertanian.
Sebut saja prasasi tugu dari masa Tarumanegara sekitar abad ke-6 mengisahkan pembuatan sebuah saluran ke laut bernama Candrabage yang digali untuk menghindari banjir.
Berita serupa muncul dalam prasasti Harinjing bertarikh 804 Masehi menyebut tentang penggalian saluran dan pembuatan bendungan di anak Sungai Konto.
Lalu prasasti Kamalagian dari tahun 1075 Masehi temuan dari Dusun Keagen, Siduarjo, Jawa Timur ini memuat berita tentang pembuatan bendungan di Waringin.
Pada abad ke-16 Masehi, pantai utara Jawa diduga sudah menjadi lumbung beras yang dihasilkan dari pertanian irigasi di Lembah Gunung Muria. Demak dan Jepara yang berada di kawasan ini adalah penghasil suprus beras memasok penduduk Malaka.
Penduduk Mataram Islam pernah diwajibkan menyetor padi dari tanah ke pertanian mereka untuk membayar pajak pada kesultanan. Kepiawaian Mataram dalam pembangunan pertanian irigasi juga dibuktikan ketika membuka persawahan di daerah Karawang, Jawa Barat.
Dalam lintasan zaman, tindakan dan kemampuan pengelolaan air di Kesultanan Banten merupakan negeri yang mandiri. Ditemukan kenyataan bahwa para sultan tidak hanya giat membangun jaringan niaga, tetapi juga melakukan perubahan pengembangan setempat untuk kepentingan dalam negerinya.
Sisi lain dari kekuatan negeri kesultanan yang selama ini luput dari perhatian adalah pertanian di Kesultanan Banten. Demikian pula informasi sumber sejarah yang masih merupakan kisah atau laporan kesaksian yang tersimpan dalam teks.
Masih terlalu kecil upaya yang dilakukan untuk mendapatkan bukti tentang praktik pertanian irigasi di negeri Para Sultan ini.
Keterangan ini merupakan bagian dari hasil rangkaian penelitian arkeologi mengenai irigasi pertanian Kesultanan Banten yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir. Penelitian itu dapat dipandang sebagai upaya untuk menemukan dan memahami kembali kompleksitas itu.
Penelitian diawali di sebuah wilayah yang disebut Tirtayasa, 6 km di sebelah timur situs Kota Banten Lama. sebuah toponimi yang tidak lain adalah nama gelaran dari Sultan Ageng, Sultan Banten yang mendapat julukan kehormatan Sang Pembangun Pengairan.
Penyelenggaraan pertanian irigasi di Kesultanan Banten sebenarnya adalah sesuatu yang wajar sebagai negeri yang berupaya memenuhi kebutuhan pangan penduduknya yang cenderung meningkat.
Namun juga tidak dapat dilupakan bahwa tradisi mengelola air dan bertani sudah dilakukan dahulunya jauh sebelumnya.
Melacak jejak irigasi Tirtayasa tidak lain adalah upaya melakukan verifikasi terhadap sumber teks tentang penyelenggaraan sistem irigasi kesultanan Banten yang diprakarsai Sultan Ageng Ttayasa.
Hampir semua terusan atau kanal yang dibuat dapat ditemukan kembali. Irigasi ini terletak di lembah Tirtayasa yang diapit dua sungai besar, yaitu sungai Ciujung dan sungai Cidurian atau Tanara.
Panjang keseluruhan kanal di Lembah Tiltayasa ini mencapai 17 km. Terdiri dari kanal-kanal Sultan, John Jing dan Karang.
Seperti tercantum dalam teks, diperkirakan kanal-kanal ini dibuat antara tahun 1670 sampai 1672. Ribuan penduduk ikut serta dalam pembuatannya. Variasi peninggalan pengairan yang ditemukan merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengatasi ketidakpastian problem yang dihadapi dalam konteks lingkungan setempat.
Teknik-teknik pengairan dikembangkan mengandalkan prinsip gravitasi ini cukup kompleks. Bangunan air menggunakan konstruksi bata dan spesi pasir kapur. Oriasi bangunan antara lain pintu pengambil air, bendungan, jembatan di bantaran atas tanggul-tanggul kanal, saluran pendam dilengkapi kotak pengontrol air diposisikan di tanggul.
Bangunan air dibuat di panjang, kanal-kanal buatan ini berfungsi sebagai pengendali air baik lateral maupun vertikal. Sistem irigasi kesultanan ini dimulai dari bangunan utamanya yang ditemukan sekitar 9 km dari pantai sekarang.
Bangunan yang berfungsi sebagai pengambil air dari bersumbernya di Sungai Durian atau Tanara untuk dialirkan ke dalam kanal-kanal yang sudah dibuat sebagai saluran primer yang kini lebih dikenal dengan sebutan kanal Sultan dan kanal John Jing. Dari kanal-kanal ini, air selanjutnya dibagi ke tanah pertanian melalui saluran sekunder seperti saluran pendam dan pintu pada bendungan.
Pada akhirnya melalui studi irigasi kesultanan ini dapat dicatat beberapa nilai penting. Tata air yang dibangun Kesultanan Banten tampaknya kompleks. Diciptakan tanah pertanian insentif baru untuk memasuk kebutuhan pangan secara mandiri, termasuk menghadapi blokade ekonomi VOC.
Teknik-teknik pengaturan air yang khas dibuat untuk dapat mengatasi lingkungan rawa, pantai dan lahan basah di pesisir yang relatif datar, banjir, dan genangan air.
Kanal tampaknya tidak hanya untuk menyalurkan air, tetapi sebagai tandon air yang dapat dikendalikan melalui ruas-ruas bendungan dan pintu-pintunya.
Sistem irigasi lembah Tirtayasa pada saat itu tampaknya tidak berdiri sendiri. Dalam teks juga disebut masih ada sistem irigasi lain yang dibangun, yaitu gempa persilihan. Keduanya merupakan jaringan yang dihubungkan satu dengan lainnya dalam sistem yang lebih besar.
Prinsip dari sistem irigasi kesultanan seperti ini dapat dipelajari lebih intensif dan akurat untuk mengatasi problem dan mengembangkan irigasi di wilayah pesisir. Sultan Ageng Tirtayasa telah membuktikan bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang berpihak pada air, pada tanah, dan pada rakyat. ***





