rumah-subsidi-di-balaraja
rumah-subsidi-di-balaraja

Kalau Besok Rumah Ini Harus Dijual Lagi, Siapa yang Mau Membelinya?

Posted on

Ada satu pertanyaan yang jarang muncul ketika seseorang sedang mencari rumah.

Biasanya yang ditanyakan adalah:

“Berapa harganya?”

“Bisa KPR?”

“Luas tanahnya berapa?”

“Ada berapa kamar?”

Semuanya memang penting.

Tapi ada satu pertanyaan lain yang tidak kalah menarik:

“Kalau suatu hari saya harus menjual rumah ini lagi, kira-kira siapa yang mau membelinya?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti pertanyaan untuk investor properti.

Padahal, pembeli rumah untuk tempat tinggal pun sebaiknya memikirkannya.

Bukan karena kita berharap rumah tersebut cepat dijual. Justru sebaliknya, kita membeli rumah karena ingin tinggal di sana selama mungkin.

Namun kehidupan bisa berubah.

Pekerjaan bisa pindah kota. Keluarga bertambah. Kondisi keuangan berubah. Bisa juga suatu hari kita ingin pindah ke rumah yang lebih besar.

Saat itulah kita baru menyadari bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga aset yang suatu saat mungkin harus berpindah tangan.

Rumah yang Kita Suka Belum Tentu Dicari Orang Lain

Ketika melihat sebuah rumah, kita sering menggunakan perasaan.

Begitu masuk halaman, terasa cocok.

Ruang tamunya bagus.

Catnya sesuai selera.

Kamar tidur cukup.

Ada taman kecil.

Akhirnya muncul kalimat:

“Kayaknya saya suka rumah ini.”

Tidak ada yang salah dengan perasaan tersebut.

Rumah memang harus terasa nyaman bagi orang yang akan tinggal di dalamnya.

Tetapi ketika membeli rumah, jangan berhenti pada pertanyaan “Apakah saya suka?”

Tambahkan satu pertanyaan lagi:

“Kalau bukan saya yang membeli, kira-kira siapa yang akan menyukai rumah ini?”

Dari sini cara melihat sebuah rumah akan berubah.

Coba Bayangkan Calon Pembeli Berikutnya

Misalnya Anda menemukan rumah dengan tiga kamar tidur.

Luas tanah cukup, lingkungan relatif nyaman, akses kendaraan mudah dan dokumen kepemilikannya jelas.

Kemungkinan calon pembelinya cukup luas.

Bisa keluarga muda.

Bisa pasangan yang memiliki anak.

Bisa orang yang ingin pindah dari rumah kontrakan.

Bisa juga orang yang membutuhkan rumah dekat tempat kerja atau keluarga.

Sekarang bandingkan dengan rumah yang desainnya sangat khusus.

Misalnya renovasi dilakukan sesuai selera pemilik sebelumnya, ruangan dibuat terlalu sempit, akses masuk sulit, tempat parkir terbatas, atau ada bagian rumah yang membutuhkan renovasi besar.

Rumah tersebut belum tentu jelek.

Bisa jadi sangat nyaman bagi pemiliknya.

Tetapi jumlah orang yang cocok dengan rumah tersebut mungkin lebih sedikit.

Di sinilah pentingnya melihat rumah bukan hanya dari sudut pandang penghuni sekarang, tetapi juga dari sudut pandang orang lain yang mungkin membutuhkannya nanti.

Lokasi Bukan Sekadar “Dekat Mana?”

Dalam memilih rumah, kata “strategis” sering digunakan.

Dekat jalan utama.

Dekat sekolah.

Dekat pasar.

Dekat stasiun.

Dekat pusat kota.

Tetapi sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting:

Mudahkah orang menemukan dan mencapai rumah tersebut?

Sebuah rumah mungkin berada tidak terlalu jauh dari pusat aktivitas.

Namun kalau jalan menuju rumah sempit, sering macet, sulit dilalui kendaraan atau aksesnya membingungkan, calon pembeli berikutnya mungkin akan mempertimbangkannya kembali.

Karena itu, ketika melihat rumah, jangan hanya melihat jarak di peta.

Coba datang langsung.

Perhatikan jalan masuk.

Lihat kondisi lingkungan.

Perhatikan apakah kendaraan roda empat bisa masuk dengan nyaman.

Dan kalau memungkinkan, datang pada waktu yang berbeda.

Karena lokasi yang terlihat biasa saja pada siang hari bisa memberikan pengalaman berbeda pada pagi atau malam hari.

Legalitas yang Rapi Membuat Rumah Lebih Mudah Dipertimbangkan

Ada bagian rumah yang tidak bisa dilihat dari foto.

Namanya dokumen.

Sebuah rumah bisa terlihat sangat menarik, tetapi calon pembeli berikutnya tentu akan mempertanyakan legalitasnya.

Karena itu, sejak awal pembelian, dokumen harus menjadi perhatian.

Pastikan informasi mengenai status tanah, sertifikat, bangunan, pajak dan dokumen transaksi dapat ditelusuri dengan jelas.

Jangan sampai ketika suatu hari rumah hendak dijual, masalah dokumen justru menjadi penghambat.

Rumah boleh sederhana.

Renovasi boleh bertahap.

Furnitur bisa diganti.

Tetapi persoalan legalitas sebaiknya jangan dianggap sebagai urusan belakangan.

Rumah yang Terlalu “Pribadi” Bisa Membatasi Calon Pembeli

Ini bukan berarti rumah harus dibuat polos seperti rumah contoh.

Namun ada perbedaan antara rumah yang memiliki karakter dan rumah yang terlalu mengikuti selera pribadi pemiliknya.

Warna dinding bisa dicat ulang.

Lemari bisa dipindahkan.

Taman bisa diubah.

Tetapi renovasi yang terlalu ekstrem terkadang membuat calon pembeli harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengembalikannya sesuai kebutuhan mereka.

Karena itu, ketika merenovasi rumah, sesekali tanyakan:

“Apakah perubahan ini benar-benar membuat rumah lebih nyaman, atau hanya sesuai selera saya?”

Pertanyaan sederhana ini bisa membuat kita lebih bijak ketika mengeluarkan uang untuk renovasi.

Perhatikan Hal yang Sering Tidak Masuk Foto Iklan

Ketika mencari rumah secara online, foto biasanya menjadi daya tarik pertama.

Ruang tamu terlihat bersih.

Kamar terlihat luas.

Dapur terlihat rapi.

Taman terlihat hijau.

Tetapi calon pembeli berikutnya tidak hanya membeli foto.

Mereka membeli kondisi sebenarnya.

Karena itu, perhatikan hal-hal seperti:

  • kondisi saluran air,
  • genangan setelah hujan,
  • kondisi jalan di depan rumah,
  • tempat parkir,
  • sirkulasi udara,
  • pencahayaan,
  • kondisi atap,
  • kelembapan dinding,
  • suara dari lingkungan sekitar,
  • dan kondisi rumah-rumah di sekitarnya.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak terlihat menarik dalam iklan.

Tetapi justru bisa sangat menentukan ketika seseorang benar-benar akan tinggal di sana.

Jangan Membeli Rumah Hanya Karena Harga Terlihat Murah

Harga murah memang menarik.

Tetapi pertanyaannya bukan hanya:

“Murah dibandingkan rumah lain?”

Coba tanyakan juga:

“Mengapa harganya murah?”

Apakah karena pemilik membutuhkan dana cepat?

Apakah lokasinya kurang diminati?

Apakah aksesnya sulit?

Apakah membutuhkan renovasi?

Apakah ada persoalan dokumen?

Atau memang ada alasan lain yang sebenarnya masih masuk akal?

Harga murah tidak otomatis berarti buruk.

Begitu juga harga tinggi tidak otomatis berarti bagus.

Yang penting adalah memahami apa yang sebenarnya kita dapatkan dengan uang yang kita keluarkan.

Lakukan Tes Sederhana Sebelum Membeli

Ada satu cara sederhana yang bisa dilakukan.

Bayangkan Anda membeli rumah tersebut hari ini.

Kemudian lima tahun dari sekarang Anda harus menjualnya.

Sekarang coba jawab tiga pertanyaan:

Pertama, siapa calon pembelinya?

Apakah keluarga muda? Pasangan baru? Karyawan? Pengusaha? Orang tua yang ingin tinggal dekat anak?

Kedua, apa tiga alasan mereka tertarik?

Misalnya lokasi, akses, ukuran rumah, lingkungan atau harga.

Ketiga, apa tiga hal yang mungkin membuat mereka ragu?

Misalnya akses jalan, parkir, banjir, renovasi atau legalitas.

Kalau Anda bisa menjawab tiga pertanyaan tersebut dengan cukup jelas, berarti Anda sudah melihat rumah secara lebih objektif.

Membeli Rumah untuk Ditinggali, Bukan Semata-mata untuk Dijual

Perlu diingat, bukan berarti setiap orang yang membeli rumah harus berpikir seperti investor.

Tidak.

Kalau tujuan utama Anda adalah tempat tinggal, maka kenyamanan keluarga tetap menjadi hal penting.

Rumah yang nyaman untuk Anda dan keluarga tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Tetapi memahami potensi rumah di masa depan adalah bentuk kehati-hatian.

Sebab rumah yang baik bukan hanya rumah yang membuat kita nyaman ketika pertama kali membelinya.

Rumah yang baik juga seharusnya memiliki alasan yang masuk akal mengapa orang lain mungkin akan tertarik terhadapnya suatu hari nanti.

Jadi, Sebelum Membeli Rumah, Jangan Hanya Bertanya “Saya Suka atau Tidak?”

Cobalah melihat rumah dengan dua kacamata.

Kacamata pertama adalah sebagai orang yang akan tinggal di dalamnya.

Apakah nyaman?

Apakah sesuai kebutuhan keluarga?

Apakah lingkungan cocok?

Apakah perjalanan sehari-hari masuk akal?

Kacamata kedua adalah sebagai orang yang suatu hari mungkin harus menjualnya.

Apakah lokasinya masih menarik?

Apakah aksesnya mudah?

Apakah legalitasnya jelas?

Apakah rumahnya mudah digunakan oleh berbagai tipe keluarga?

Apakah ada masalah yang bisa membuat calon pembeli mundur?

Dua sudut pandang ini tidak harus bertentangan.

Justru keduanya bisa membantu kita membuat keputusan yang lebih matang.

Karena pada akhirnya, membeli rumah bukan sekadar memilih bangunan yang terlihat bagus.

Kita sedang memilih tempat untuk menjalani kehidupan sekaligus sebuah aset yang mungkin akan menjadi bagian penting dari perjalanan keuangan keluarga.

Dan sebelum mengatakan, “Saya suka rumah ini,” mungkin ada baiknya menambahkan satu kalimat:

“Kalau suatu hari saya harus menjualnya, apakah orang lain juga akan melihat nilainya?”

Itulah pertanyaan kecil yang sering terlupakan ketika membeli rumah.

FAQ

Apakah rumah yang mudah dijual kembali pasti merupakan investasi yang bagus?

Tidak selalu. Kemudahan menjual kembali dipengaruhi banyak hal, termasuk lokasi, kondisi rumah, legalitas, harga dan kondisi pasar pada saat rumah dijual.

Apa yang membuat rumah lebih menarik bagi calon pembeli?

Umumnya calon pembeli akan mempertimbangkan kombinasi lokasi, akses, kondisi bangunan, tata ruang, lingkungan, legalitas dan harga.

Apakah renovasi rumah bisa meningkatkan nilai jual?

Bisa, tetapi tidak semua renovasi memberikan manfaat yang sama. Renovasi sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan penghuni dan biaya yang dikeluarkan, bukan hanya mengikuti selera pribadi.

Apakah membeli rumah harus memikirkan harga jual kembali?

Tidak wajib, tetapi mempertimbangkannya sejak awal dapat membantu pembeli memahami kualitas lokasi dan kondisi rumah secara lebih objektif.

Apa yang harus diperiksa selain bangunan ketika membeli rumah?

Periksa juga akses jalan, lingkungan, kondisi saluran air, potensi genangan, tempat parkir, fasilitas sekitar serta dokumen dan legalitas properti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *