Gagasan Gentengnisasi untuk Membuat Indonesia Lebih Indah
Presiden Prabowo Subianto mengajukan wacana “gentengnisasi” sebagai langkah untuk menciptakan pemukiman yang lebih indah dan nyaman di Indonesia. Ide ini menarik perhatian para ahli, termasuk desainer interior Ary Juwono, yang menilai bahwa genteng memiliki keunggulan dalam konteks iklim tropis negara ini.
Kelebihan Genteng dalam Desain Interior
Material genteng tidak hanya berfungsi sebagai pelindung bangunan, tetapi juga memengaruhi kualitas ruang di dalam rumah. Menurut Ary Juwono, genteng lebih sustainable dibandingkan seng dan mampu menjaga suhu ruangan tetap sejuk.
“Genteng bisa menghalangi panas matahari langsung masuk ke dalam ruangan, sehingga membuat suhu ruangan lebih stabil dan nyaman,” ujarnya.
Namun, penggunaan genteng juga memiliki tantangan. Harganya umumnya lebih mahal dibandingkan seng, dan proses pemasangannya memerlukan keahlian khusus agar hasilnya rapi dan presisi.
Tantangan Penggunaan Genteng
Ary juga menyoroti masalah pasokan dan kualitas genteng di pasar. Ketersediaan bahan baku seperti tanah yang digunakan untuk membuat genteng terbatas, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas produk yang beredar.
“Kita harus mempertanyakan apakah suplai pasarnya masih baik? Dan apakah kualitas genteng saat ini masih memadai?” tanyanya.
Selain itu, ketersediaan bahan baku tersebut juga menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi produksi dan kualitas genteng secara keseluruhan.
Keunggulan dan Kekurangan Atap Seng
Di sisi lain, atap seng masih memiliki keunggulan dari segi efisiensi produksi dan pemasangan. Seng diproduksi secara pabrikan, sehingga lebih hemat biaya dan waktu dalam instalasi. Hal ini membuatnya menjadi pilihan utama untuk pembangunan cepat dan skala besar.
Namun, seng memiliki kelemahan utama, yaitu rentan terhadap panas. Untuk mengurangi dampaknya, biasanya ditambahkan lapisan penahan panas sebelum pemasangan plafon.
“Agar tidak panas, sebaiknya pengguna atap seng melapisi dengan bahan penahan panas sebelum pemasangan ceiling,” kata Ary.
Karakteristik Atap Seng
Atap seng terbuat dari logam murni berbasis seng (zinc) yang ringan, mudah dibentuk, dan memiliki kilau khas logam abu-abu. Material ini sudah digunakan sejak puluhan tahun lalu karena kemudahan pemasangan dan harga yang relatif terjangkau.
Namun, di iklim tropis Indonesia dengan tingkat kelembapan tinggi, seng lebih rentan terhadap karat, terutama di daerah pantai atau daerah dengan curah hujan tinggi. Meski demikian, masa pakainya sekitar 10–15 tahun tergantung kondisi lingkungan dan perawatan.
Kritik Presiden atas Penggunaan Atap Seng
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto mengkritik penggunaan atap seng yang dinilai tidak mendukung kenyamanan hunian dan mereduksi nilai estetika.
Menurut Prabowo, hampir seluruh kota, kecamatan, hingga desa di Indonesia didominasi atap seng yang bersifat panas dan mudah berkarat. Ia menyatakan bahwa hal ini tidak sejalan dengan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara yang indah dan berdaya tarik tinggi.
“Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Program Gentengnisasi Nasional
Untuk mengatasi masalah ini, Prabowo menggulirkan gagasan besar berupa program “gentengnisasi” nasional, yaitu proyek penggantian atap seng dengan genteng di seluruh Indonesia. Program ini merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman Sehat, Resik, Indah).
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti gerakannya adalah proyek gentengnisasi seluruh Indonesia,” tegasnya.
Investasi dan Pengembangan Genteng
Untuk mewujudkan proyek ini, pemerintah akan melengkapi Koperasi Merah Putih dengan fasilitas pabrik genteng. Bahan baku genteng bisa terbuat dari tanah dengan campuran limbah, seperti limbah batu bara. Limbah tersebut jika diolah bersama tanah, dinilai mampu menghasilkan genteng yang ringan namun kuat.
Prabowo juga mendorong kepala daerah untuk aktif memperindah wilayah masing-masing melalui program ini. Ia percaya bahwa kota, kecamatan, dan desa yang tertata akan mencerminkan semangat kebangkitan nasional.
Hubungan dengan Kearifan Lokal
Presiden juga mengaitkan gagasan ini dengan kearifan lokal. Ia mengingatkan bahwa generasi terdahulu menggunakan material atap alami seperti rumbia, ijuk, atau sirap yang lebih sejuk dan sesuai dengan iklim tropis.
Dalam konteks pariwisata, Prabowo menilai dominasi atap seng berkarat dapat mengurangi daya tarik Indonesia di mata wisatawan mancanegara. Ia bahkan menyebut karat sebagai simbol kemunduran.
“Turis dari luar untuk apa dia datang melihat seng berkarat, karena itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan, Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah. Rakyat kita harus bahagia,” tegas Prabowo.





