Penjelasan Cak Nun tentang Anaknya: Alasan Jadi Tenaga Ahli DPN

Posted on

Peran Sabrang Mowo Damar Panuluh sebagai Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional

Sabrang Mowo Damar Panuluh, putra dari cendekiawan nasional Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), telah resmi dilantik sebagai Tenaga Ahli (TA) di Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Ia menegaskan bahwa posisinya bukan sebagai pembuat kebijakan, melainkan sebagai pemberi masukan strategis. Ia menjelaskan bahwa perannya adalah sebagai “indra mata, akal, dan telinga” bagi negara untuk memberikan rekomendasi terhadap situasi risiko bangsa.

Pengangkatan Sabrang menjadi TA DPN cukup mengejutkan mengingat latar belakangnya sebagai musisi sekaligus intelektual publik yang lebih sering memberikan kritik tajam dan analisis mendalam tentang persoalan bangsa melalui forum-forum diskusi independen. Hal ini memicu spekulasi dan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai apakah ia akan tetap mempertahankan kekritisannya atau justru larut dalam sistem birokrasi.

Alasan Sabrang Jadi Tenaga Ahli DPN

Melalui penjelasannya di channel YouTube pribadinya, Sabrang menegaskan bahwa posisinya di DPN bukan sebagai pembuat kebijakan, melainkan pemberi masukan strategis sekaligus menjalankan sebuah “eksperimen” tata kelola interaksi antara pejabat dan rakyat. Ia menyatakan bahwa perannya murni bersifat teknis substansial untuk kepentingan negara.

“Pertama saya posisinya di sana adalah tenaga ahli. Ada tenaga ahli itu enggak membuat peraturan. Tenaga ahli itu memberi masukan kepada pemerintah, mungkin bisa diteruskan ke presiden terhadap situasi resiko, dan rekomendasi. Jadi ini sebagai indra mata, akal, telinga,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara sistem pemerintahan yang bersifat politis lima tahunan dengan sistem negara. “Saya masuknya pada posisi negara bukan pada posisi pemerintah. Argumennya apakah saya masih masuk sistem? Ya, saya masuk sistem yang dilahirkan oleh bangsa pada posisi berdiri pada posisi negara bukan posisi pemerintah,” tegasnya.

Menjawab Skeptisisme: “Kelinci Eksperimen”

Terkait keresahan para pengikutnya dan masyarakat yang skeptis terhadap keputusannya masuk ke birokrasi, Sabrang mengaku sudah memperkirakan reaksi tersebut. Ia memilih memposisikan diri sebagai subjek uji coba untuk sebuah standar baru.

“Oke, saya akan jadi di sisi sini kelinci eksperimen. Mari kita bikin framework (kerangka kerja standar) bagaimana pejabat melaporkan atau berinteraksi dengan rakyat,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa bayangan ini bisa menjadi standar dari semua pejabat kita. “Dia bisa dengan dingin melihat masalah, bisa meng-acknowledge, mengakui bahwa masalah itu ada, tidak lari dari masalah, bisa merespon dengan jujur, apa adanya, transparan, dan punya komitmen yang bisa dilihat bersama,” jelasnya.

Kompetensi Pertahanan dan ‘Cognitive War’

Menanggapi keraguan publik soal kompetensinya di bidang pertahanan nasional, Sabrang menjelaskan bahwa ancaman negara modern telah berevolusi melebihi sekadar perang fisik atau kinetik. “Saya bukan jenderal. Saya tidak akan pura-pura ngerti taktik militer atau perang-perang kinetik. Tapi negara hancur bisa enggak hanya karena itu loh.”

Perang kognitif sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang ia sebut sedang terfragmentasi (fractured). “Perang kognitif itu berhubungan dengan yang kamu pakai sehari-hari nih. Mempengaruhi otak itu bisa menghancurkan negara. Contohnya kayak kita, kayak kita sekarang ini menurutmu baik-baik aja. Kita terpecah belah satu sama lain,” tegasnya.

Independensi dan Janji Mundur

Mengenai kekhawatiran publik bahwa dirinya akan kehilangan kekritisan, Sabrang memastikan integritasnya tetap terjaga. “Mulut saya tidak akan saya gadaikan kepada orang lain karena yang ngasih mulut ya Tuhan. Jadi ini tanggung jawab saya terhadap mulut saya. Tidak akan bisa dipinjam pemerintah, tidak akan bisa dipinjam netizen juga,” katanya.

Sebagai bentuk akuntabilitas, Sabrang membuat komitmen terbuka terkait hasil kerjanya. “Komitmen saya apa yang saya sampaikan ke DPN akan saya sampaikan juga ke publik rekomendasinya seperti apa.” Ia juga menegaskan bahwa jika rekomendasinya tidak didengarkan, ia akan mundur.

Pelantikan 12 Pakar dan Penguatan Strategis DPN

Sebagai informasi, total ada 12 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu yang dilantik sebagai tenaga ahli di DPN berdasarkan Keputusan Ketua Harian DPN Nomor: KEP/3/KH/X/2025. Sabrang dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya yang setara dengan pejabat Eselon 2.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan, pelantikan itu merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat jajaran pemikir di tubuh DPN dalam menghadapi dinamika tantangan global. “Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, serta Geostrategi,” kata Rico saat dikonfirmasi.

Jejak Akademis Sabrang di Kanada: Sarjana Ganda Matematika dan Fisika

Sabrang yang kini berusia 46 tahun, menamatkan SMA di Yogyakarta. Setelah tamat SMA, Sabrang melanjutkan studi ke University of Alberta, Kanada, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang masuk jajaran elite top 5 nasional dan peringkat 100–150 global. Reputasi kampus tersebut sangat kuat, terutama di bidang riset dan inovasi, sehingga menjadi tempat yang menantang sekaligus prestisius bagi Sabrang untuk menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika.

Krisis moneter membuat Sabrang harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, namun ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang. Pada 2003, Sabrang resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut. Dalam kehidupan pribadi, Sabrang menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarganya berjalan harmonis hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *