Prediksi Awal Ramadan 1447 H: Perbedaan Pendekatan Pemerang dan Muhammadiyah
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, berbagai pihak mulai memberikan prediksi terkait penetapan tanggal 1 Ramadan 1447 Hijriyah. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia dan organisasi Muhammadiyah memiliki perbedaan pendekatan dalam menentukan awal bulan puasa. Perbedaan ini disebabkan oleh metode yang digunakan masing-masing pihak.
Prediksi Pemerintah
Pemerintah Indonesia menggunakan metode hisab dan rukyat untuk menetapkan awal Ramadan. Metode ini menggabungkan perhitungan astronomi (hisab) dengan pengamatan langsung terhadap hilal (bulan sabit) di lapangan. Hasil pemantauan hilal dilakukan oleh tim hisab dan rukyat di seluruh Indonesia, serta hasil sidang isbat setiap tahunnya menjadi dasar penetapan resmi 1 Ramadan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pemerintah memprediksi bahwa 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 28 Februari 2026. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan astronomi dan observasi hilal yang dilakukan oleh para ahli.
Prediksi Muhammadiyah
Di sisi lain, organisasi Muhammadiyah lebih mengandalkan metode hisab murni tanpa melibatkan pengamatan langsung terhadap hilal. Berdasarkan perhitungan posisi bulan, Muhammadiyah memprediksi bahwa 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Jumat, 27 Februari 2026. Edaran resmi yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah menyatakan bahwa tanggal tersebut adalah awal Ramadhan yang diperkirakan berdasarkan perhitungan astronomi.
Muhammadiyah juga menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dalam metode ini, bulan baru dianggap sudah masuk jika telah memenuhi tiga kriteria wujudul hilal secara kumulatif, yaitu:
- Ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari terjadi sebelum terbenamnya Matahari.
- Saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam (Bulan masih berada di atas ufuk).
Karena menggunakan perhitungan matematis-astronomis, Muhammadiyah biasanya dapat mengumumkan tanggal awal puasa dan Idul Fitri jauh hari sebelum harinya tiba, bahkan melalui Maklumat resmi yang diterbitkan beberapa bulan sebelumnya.
Perbedaan Metode Penetapan
Perbedaan penetapan 1 Ramadan ini terjadi karena adanya perbedaan pendekatan antara pemerintah yang mengedepankan metode kombinasi rukyat (melihat hilal) dan hisab, serta Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab secara murni.
Metode hisab mengandalkan perhitungan posisi bulan berdasarkan ilmu astronomi, sedangkan rukyat mengandalkan pengamatan langsung terhadap hilal di lapangan. Meski ada perbedaan, baik masyarakat yang mengikuti pemerintah maupun yang mengikuti Muhammadiyah tetap mengedepankan toleransi dan saling menghormati.
Kapan Puasa 2026 Dimulai?
Jika merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, 1 Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Dihitung dari hari ini, Rabu (21/1/2026), maka hitung mundur puasa 2026 menunjukkan waktu sekitar 29 hari lagi.
Jika dikonversikan ke dalam satuan pekan, puasa 2026 berapa minggu lagi jawabannya adalah sekitar 4 minggu ke depan. Bagi Anda yang bertanya puasa 2026 kurang berapa lagi, sisa waktu kurang dari satu bulan ini merupakan fase krusial.
Dalam periode ini, umat Muslim diimbau mulai mempersiapkan kesehatan fisik serta menyelesaikan kewajiban syariat yang tertunda dari tahun sebelumnya.
Potensi Perbedaan Awal Puasa
Potensi perbedaan awal puasa di Indonesia umumnya terjadi karena perbedaan kriteria visibilitas hilal. Pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria MABIMS menetapkan bahwa hilal dinyatakan sah atau dapat dilihat (imkanur rukyat) apabila ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi (jarak lengkung Bulan-Matahari) minimal 6,4 derajat.
Perbedaan sering terjadi ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk (positif) menurut hisab Muhammadiyah, namun ketinggiannya belum mencapai standar 3 derajat atau elongasinya kurang dari 6,4 derajat menurut kriteria MABIMS dipakai Pemerintah.
Dalam kondisi seperti itu, Muhammadiyah akan menetapkan besoknya sudah masuk Ramadhan karena bulan sudah wujud. Sementara Pemerintah akan menetapkan besoknya belum masuk Ramadhan karena hilal dianggap belum memenuhi syarat visibilitas untuk bisa diamati.
Namun, jika pada saat pemantauan posisi bulan sudah tinggi dan memenuhi syarat MABIMS, maka besar kemungkinan awal puasa Ramadhan 2026 akan berlangsung serentak.
Kesimpulan
Perbedaan metode ini merupakan hal yang lumrah dan sudah sering terjadi di Indonesia. Hal ini menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan satu hari dalam mengawali ibadah puasa di tengah masyarakat. Meskipun demikian, penting bagi umat Muslim untuk menjaga ukhuwah Islamiyah dan tidak terjebak pada perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan.
