Jejak Rempah Hikmah Fajar: Warisan Rasa Keluarga yang Menyebar ke Seluruh Dunia

Posted on

Sejarah dan Perkembangan Bumbu Hikmah Fajar

Bumbu Hikmah Fajar adalah salah satu usaha kuliner yang telah bertahan selama lebih dari 40 tahun. Mulai dari sebuah lapak kecil di Pasar Cinde Palembang, kini bumbu ini dikelola oleh generasi kedua, Novia Ariani, dengan tetap mempertahankan racikan bumbu khas tanpa pengawet.

Usaha ini awalnya dimulai pada tahun 1975 oleh almarhum Haji Askar bersama istri mereka, Uni Cinde. Pada awalnya, mereka hanya menjual kelapa parut. Namun, melihat pedagang lain yang menjual cabai giling dan bumbu masak, mereka memutuskan untuk mencoba peruntungan baru. Dari keuntungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, akhirnya mereka mampu membeli mesin penggiling cabai dan mulai menjual cabai giling sebelum akhirnya meracik dan menjual bumbu masak siap pakai.

Novia Ariani, pemilik Hikmah Fajar saat ini, mengatakan bahwa ide untuk menjual bumbu masakan yang sudah digiling datang dari orangtuanya. Kini, bumbu Hikmah Fajar telah dikenal lintas generasi dan menjadi andalan berbagai hidangan khas, mulai dari rendang, pindang, malbi, opor, sop hingga aneka masakan rumahan.

Proses Pembuatan dan Kualitas Bumbu

Karena berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat, keluarganya memiliki bekal pengetahuan dasar dalam meracik bumbu masakan khas Minangkabau. Berbekal keahlian tersebut, Novia mulai bereksperimen dengan berbagai bahan baku. Proses pencarian rasa yang pas tidak instan. Hampir dua hingga tiga tahun dibutuhkan untuk melakukan uji coba hingga menemukan racikan yang sesuai dengan lidah banyak orang.

“Semua bumbu diracik sendiri tanpa bahan pengawet. Bahan-bahan yang digunakan alami dan berkualitas terbaik. Komposisinya ditakar dengan sangat teliti agar rasanya konsisten,” kata Novia.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Bumbu racikan Hikmah Fajar diterima dengan baik oleh masyarakat. Permintaan terus meningkat, membuat usaha yang awalnya hanya lapak kecil di Pasar Cinde berkembang pesat.

Perkembangan Usaha dan Inovasi

Hikmah Fajar kemudian membuka cabang di sejumlah pasar tradisional di Palembang, seperti Pasar Cinde, Pasar Perumnas Sako, dan Pasar Lemabang. Seiring waktu, estafet usaha keluarga ini diteruskan oleh Novia Ariani bersama sang suami. Sebagai generasi penerus, Novia berupaya menjaga warisan rasa sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pada 2016, Hikmah Fajar mulai berinovasi dengan memperbarui kemasan agar terlihat lebih modern dan menarik.

Namun, perubahan tersebut sempat berdampak pada penurunan omzet. Sebagian pelanggan mengira perubahan kemasan diikuti perubahan rasa. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya sempat memajang dua kemasan sekaligus, kemasan lama dan baru.

“Masih ada pelanggan yang minta kemasan lama. Tapi pelan-pelan mereka paham kalau yang berubah hanya kemasannya, bukan rasanya,” kata Novia.

Selain pasar tradisional, Bumbu Hikmah Fajar kini juga telah merambah pasar ritel modern dan sejumlah supermarket di Palembang. Pada 2023, Novia mencoba memperluas pasar melalui sistem reseller online. Sayangnya, upaya tersebut berujung pahit setelah ia mengalami penipuan hingga puluhan juta rupiah.

“Barangnya diambil, tapi tidak dibayar. Kami sudah datangi rumahnya, tapi orangnya tidak ada,” kenangnya.

Tak ingin larut dalam kegagalan, Novia bangkit bersama Diva putrinya. Ia belajar secara otodidak dan membuka toko daring di platform Shopee dengan nama Hikma Fajar Bumbu.

Langkah tersebut justru membawa hasil di luar dugaan. Pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Penjualan dan Varian Bumbu

“Dalam satu hari, penjualan daring bisa mencapai 200–300 kemasan. Jika digabung dengan penjualan offline, total penjualan bisa menembus 500 kemasan per hari. Kini ada 16 varian bumbu dan yang paling diminati antara lain bumbu rendang, ayam goreng, opor, sambal goreng buncis, sop, hingga malbi. Dengan harga mulai dari Rp 14 ribu,” ungkapnya.

Ekspansi Pasar Internasional

Tak hanya pasar domestik, Bumbu Hikmah Fajar juga telah menembus pasar internasional seperti Amerika Serikat dan Australia. Hampir setiap tiga bulan sekali, konsumen yang punya usaha di sana beli sekitar 50 kilogram bumbu. Ada juga konsumen yang menjadikannya sebagai oleh-oleh dan dibawa ke luar negeri.

Kini, dari dapur sederhana yang berawal di Pasar Cinde, Bumbu Hikmah Fajar berhasil membawa cita rasa lokal Palembang dan Minangkabau ke berbagai penjuru dunia. Cita rasa yang khas, kaya rempah, dan konsisten membuat Bumbu Hikma Fajar terus diburu konsumen.

Perjalanan panjang lintas generasi ini menjadi bukti bahwa konsistensi, kualitas, dan inovasi mampu membuat usaha kecil bertahan dan bisa berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *