Ada rumah yang ketika pertama kali dilihat langsung membuat kita berkata:
“Wah, bagus juga rumahnya.”
Cat masih terlihat baru.
Ruang tamunya rapi.
Dapurnya bersih.
Kamar tidur cukup.
Halaman depan juga terlihat menyenangkan.
Kalau melihat dari foto, rasanya ingin segera datang dan melihat langsung.
Tetapi membeli rumah bukan seperti membeli pakaian yang kalau tidak cocok bisa disimpan di lemari.
Rumah akan menjadi tempat kita pulang setiap hari.
Karena itu, ada satu cara sederhana yang sering terlupakan ketika melihat rumah:
Jangan hanya membayangkan bagaimana rumah itu terlihat hari ini. Bayangkan bagaimana rasanya tinggal di sana selama satu tahun.
Di situlah biasanya kita mulai melihat hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat.
Hari Pertama Biasanya Berbeda dengan Bulan Ke-12
Saat pertama kali datang ke rumah yang akan dijual, semuanya bisa terasa menyenangkan.
Pemilik rumah mungkin sudah membersihkan ruangan.
Lampu dinyalakan.
Rumah dibuat serapi mungkin.
Suasana juga dibuat senyaman mungkin.
Wajar.
Namanya juga rumah yang sedang ditawarkan.
Namun kehidupan sehari-hari tidak selalu seperti itu.
Coba bayangkan Anda sudah tinggal di sana selama beberapa bulan.
Pagi hari harus berangkat kerja.
Anak harus sekolah.
Motor dan mobil harus keluar bersamaan.
Sore hari pulang dalam kondisi lelah.
Malam hari hujan deras.
Kemudian Anda mulai bertanya:
“Apakah jalan masuk rumah ini tetap nyaman?”
“Kalau hujan, apakah air menggenang?”
“Apakah parkir cukup?”
“Apakah suara dari luar mengganggu?”
“Kalau ada keluarga datang, apakah mereka mudah menemukan rumah ini?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu justru penting sebelum membeli.
Coba Datang Bukan Hanya Saat Cuaca Bagus
Kalau memungkinkan, jangan hanya melihat rumah satu kali.
Datang pada waktu berbeda.
Pagi hari memberi gambaran mengenai aktivitas warga dan perjalanan menuju tempat kerja atau sekolah.
Sore hari memperlihatkan kondisi jalan ketika aktivitas mulai ramai.
Malam hari memberikan gambaran mengenai penerangan jalan, suasana lingkungan dan tingkat kebisingan.
Kalau hujan turun, justru itu kesempatan yang sangat baik untuk memperhatikan kondisi lingkungan.
Memang tidak selalu memungkinkan calon pembeli datang berkali-kali.
Tetapi semakin besar nilai pembelian, semakin layak kita meluangkan waktu untuk melihat kondisi sebenarnya.
Rumah Bagus, Tapi Apakah Rutinitas Anda Akan Nyaman?
Ini pertanyaan yang sering kalah oleh tampilan rumah.
Misalnya sebuah rumah terlihat sangat bagus.
Tetapi ternyata perjalanan menuju tempat kerja membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan rumah Anda sekarang.
Awalnya mungkin masih terasa biasa.
Satu minggu masih bisa dijalani.
Sebulan mulai terasa melelahkan.
Setahun kemudian, waktu yang habis di perjalanan mungkin menjadi salah satu hal yang paling sering dikeluhkan.
Karena itu, ketika memilih rumah, jangan hanya menghitung berapa rupiah yang harus dibayar.
Hitung juga:
berapa banyak waktu yang akan Anda habiskan setiap hari untuk hidup dari rumah tersebut.
Waktu memang tidak tercantum dalam brosur properti.
Tetapi nilainya sangat besar bagi kehidupan sehari-hari.
Perhatikan Hal yang Mengganggu Sedikit Demi Sedikit
Ada masalah yang langsung terlihat.
Atap bocor, misalnya.
Pintu rusak.
Dinding retak.
Masalah seperti itu biasanya mudah diperhatikan.
Tetapi ada juga gangguan kecil yang baru terasa setelah tinggal cukup lama.
Suara kendaraan.
Tetangga yang sangat dekat.
Jalan sempit.
Parkir sulit.
Sinar matahari terlalu panas pada sore hari.
Kamar tertentu terlalu gelap.
Sirkulasi udara kurang baik.
Atau saluran air yang tidak lancar.
Satu masalah kecil mungkin tidak terasa berat.
Tetapi kalau terjadi setiap hari selama bertahun-tahun, ceritanya bisa berbeda.
Jangan Hanya Melihat Bagian Dalam Rumah
Ketika melihat rumah, kita sering menghabiskan waktu di ruang tamu, kamar dan dapur.
Padahal lingkungan sekitar juga merupakan bagian dari kehidupan di rumah tersebut.
Coba berdiri beberapa menit di depan rumah.
Dengarkan.
Apa yang terdengar?
Apakah banyak kendaraan lewat?
Apakah ada suara aktivitas usaha?
Bagaimana kondisi jalan?
Bagaimana rumah tetangga?
Apakah ada lahan kosong di sekitar?
Apakah lingkungan terlihat terawat?
Kemudian lihat ke atas.
Apakah ada tiang listrik atau kabel yang posisinya perlu diperhatikan?
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele.
Tetapi justru pengalaman tinggal sehari-hari dibentuk oleh banyak hal kecil yang berada di luar dinding rumah.
Coba Bayangkan Saat Keluarga Bertambah
Rumah yang terasa cukup hari ini belum tentu cukup lima tahun lagi.
Saat ini mungkin hanya tinggal pasangan.
Beberapa tahun kemudian anak bertambah.
Orang tua mungkin membutuhkan tempat tinggal bersama.
Kebutuhan kendaraan juga bisa berubah.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Cukup tidak untuk saya sekarang?”
Tanyakan juga:
“Apakah rumah ini masih masuk akal kalau kondisi keluarga saya berubah?”
Tidak perlu membeli rumah yang jauh lebih besar hanya karena kemungkinan masa depan.
Namun setidaknya pertimbangkan apakah rumah tersebut memiliki ruang untuk berkembang bersama kebutuhan keluarga.
Jangan Terlalu Terpengaruh Interior
Interior yang cantik memang menyenangkan.
Tetapi furnitur bisa dipindahkan.
Cat bisa diganti.
Lampu bisa diganti.
Gorden bisa diganti.
Bahkan dapur bisa direnovasi.
Yang lebih sulit diubah adalah hal-hal seperti lokasi, bentuk jalan, lingkungan dan akses.
Karena itu, ketika melihat rumah, pisahkan dua hal:
Apa yang bisa saya ubah?
dan
Apa yang harus saya terima?
Jika warna dinding tidak cocok, itu mungkin bukan masalah besar.
Tetapi kalau akses menuju rumah setiap hari membuat Anda tidak nyaman, itu jauh lebih sulit diperbaiki.
Ada Baiknya Bertanya kepada Orang yang Sudah Tinggal di Sana
Kadang informasi terbaik bukan datang dari brosur.
Bukan juga dari iklan.
Tetapi dari orang yang sudah tinggal di lingkungan tersebut.
Tidak perlu bertanya terlalu banyak.
Cukup ngobrol secara wajar.
Misalnya:
“Kalau di sini biasanya kalau hujan bagaimana, Pak?”
“Atau jalan ini kalau pagi ramai tidak?”
“Lingkungannya biasanya cukup tenang malam hari?”
Pertanyaan sederhana bisa memberikan gambaran yang tidak selalu terlihat ketika kita hanya datang sebentar.
Tetap gunakan pertimbangan sendiri dan, jika memungkinkan, tanyakan kepada lebih dari satu orang.
Coba Lakukan “Simulasi Satu Hari”
Sebelum memutuskan membeli, coba bayangkan satu hari penuh.
Pukul 05.30.
Anda bangun.
Apakah lingkungan cukup nyaman?
Pukul 06.30.
Anda mengantar anak atau berangkat kerja.
Apakah akses keluar rumah mudah?
Pukul 12.00.
Rumah terkena panas matahari dari arah tertentu.
Apakah ruangan tetap nyaman?
Pukul 17.00.
Orang-orang pulang kerja.
Bagaimana kondisi jalan?
Pukul 20.00.
Keluarga berkumpul.
Apakah lingkungan cukup tenang?
Pukul 22.00.
Anda ingin beristirahat.
Apakah suara dari luar masih terdengar?
Memang ini hanya simulasi.
Tetapi cara berpikir seperti ini membuat kita tidak hanya membeli rumah yang terlihat bagus, melainkan mempertimbangkan kehidupan yang akan dijalani di dalamnya.
Rumah yang Cocok Bukan Selalu yang Paling Cantik
Pada akhirnya, rumah yang paling cocok belum tentu rumah yang paling bagus ketika difoto.
Bisa jadi rumah tersebut tampil sederhana.
Tidak memiliki interior mewah.
Halaman tidak terlalu besar.
Namun lokasinya sesuai kebutuhan.
Aksesnya nyaman.
Lingkungannya cocok.
Ukuran ruangannya masuk akal.
Dan yang paling penting, kehidupan sehari-hari di sana terasa lebih mudah.
Itulah sebabnya membeli rumah sebaiknya tidak dilakukan hanya dengan mata.
Gunakan juga waktu, logika dan bayangan tentang kehidupan Anda beberapa tahun ke depan.
Karena rumah bukan hanya sesuatu yang kita lihat ketika survei.
Rumah adalah tempat yang akan kita rasakan setiap hari setelah kunci berpindah ke tangan kita.
Jadi sebelum mengatakan:
“Rumah ini bagus.”
Coba lanjutkan dengan pertanyaan:
“Kalau saya tinggal di sini selama satu tahun, apa yang mungkin membuat saya bahagia… dan apa yang mungkin membuat saya menyesal?”
Jawaban atas pertanyaan itu bisa jauh lebih berharga daripada sekadar melihat foto rumah dari sudut terbaiknya.
FAQ
Apakah rumah harus dilihat berkali-kali sebelum dibeli?
Tidak selalu, tetapi semakin besar nilai pembelian, semakin penting melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Jika memungkinkan, melihat lingkungan pada waktu yang berbeda dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Apa yang perlu diperhatikan selain kondisi bangunan?
Perhatikan akses jalan, lingkungan, kebisingan, pencahayaan, sirkulasi udara, kondisi saluran air, parkir dan aktivitas di sekitar rumah.
Apakah rumah yang bagus pasti nyaman ditinggali?
Belum tentu. Kenyamanan sangat bergantung pada kebutuhan penghuni, lokasi, rutinitas sehari-hari dan kondisi lingkungan.
Mengapa perlu melihat rumah pada malam hari?
Karena suasana malam dapat memperlihatkan hal yang berbeda dari siang hari, seperti penerangan jalan, aktivitas warga, kebisingan dan keamanan lingkungan yang dapat diamati secara langsung.
Apa pertanyaan terpenting sebelum membeli rumah?
Selain harga dan kondisi bangunan, tanyakan apakah lokasi, akses, lingkungan dan rumah tersebut benar-benar sesuai dengan kehidupan sehari-hari Anda sekarang maupun beberapa tahun ke depan.




