Kotak Hitam Ditemukan

Posted on

Penemuan Black Box Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport

Tim Search and Rescue (SAR) gabungan berhasil menemukan black box pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport yang hilang kontak sejak Sabtu (17/1). Perangkat perekam tersebut ditemukan pada Rabu (21/1) sekitar pukul 10.30 Wita, masih menempel di bagian ekor pesawat yang berada di jurang sedalam sekitar 150 meter di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Meski berada di medan ekstrem, kondisi black box dilaporkan masih utuh. Penemuan ini dilakukan pada hari kelima pencarian, yang menunjukkan usaha keras dan dedikasi dari tim SAR yang terlibat dalam operasi penyelamatan ini.

Lokasi dan Proses Pencarian

Pesawat ATR 42-500 registrasi PK-THT hilang kontak pada Sabtu (17/1). Serpihan pesawat pertama kali ditemukan beberapa jam setelah kejadian. Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, dengan koordinat 04°55’48” Lintang Selatan dan 119°44’52” Bujur Timur.

Pada hari keempat pencarian, Selasa (20/1), tim gabungan berhasil mengidentifikasi posisi ekor pesawat tersebut. Dari titik itu atau pada hari kelima pencarian, Rabu (21/1), lokasi black box pun turut diketahui.

Kasi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa ekor pesawat berada di sisi selatan gunung dengan kontur tebing curam. Untuk menjangkau lokasi tersebut, tim membutuhkan perlengkapan khusus seperti tali sepanjang sekira 100 meter dari Pos 8 guna melakukan teknik grappling ke area pesawat.

Basarnas Makassar juga telah berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait titik pasti black box. Letak black box berada di bagian ekor pesawat, demikian jelas Sultan.

Identifikasi Awal dan Koordinasi

Asisten Operasi (Asops) Pangdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Priyo Hadi, mengatakan bahwa tim telah mencapai lokasi ekor pesawat dan melakukan pengecekan langsung. “Alhamdulillah, tim sudah ke lokasi dan mengecek langsung. Black box masih ada dan posisinya tidak terlepas dari ekor pesawat,” ujarnya, Rabu pagi.

Identifikasi awal dilakukan melalui dokumentasi visual yang dikirim oleh tim lapangan. Berdasarkan ciri fisik dan edukasi dari KNKT, objek tersebut diyakini sebagai black box. “Secara visual, video yang dikirim menunjukkan itu black box. Bentuknya utuh,” ungkap Dody.

Ia menambahkan, metode operasi di lapangan sempat diubah untuk menyesuaikan kondisi medan ekstrem. “Tim dibekali logistik di ransel masing-masing sehingga bisa bertahan hingga dua hari. Hari ini kita berhasil mencapai titik ekor pesawat,” jelasnya.

Fungsi dan Pentingnya Black Box

Black box merupakan perangkat vital dalam dunia penerbangan yang berfungsi merekam seluruh aktivitas penting selama penerbangan. Meskipun dikenal dengan sebutan “kotak hitam”, perangkat ini justru berwarna oranye terang. Warna tersebut dikenal sebagai oranye internasional, dirancang agar mudah terlihat dan ditemukan di lokasi kecelakaan.

Black box sebenarnya terdiri dari dua perangkat terpisah, yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). FDR bertugas merekam berbagai data teknis penerbangan seperti kecepatan udara, ketinggian, percepatan vertikal, hingga aliran bahan bakar. Sementara itu, CVR merekam percakapan pilot, komunikasi dengan petugas lalu lintas udara, serta suara-suara di dalam kokpit yang dapat menjadi petunjuk penting bagi penyelidik.

Penemuan Bagian Pesawat Lainnya

Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi Propeller Electronic Control (PEC) pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Rabu (21/1). Perangkat ini ditemukan di kedalaman sekira 475 meter dari puncak Bulusaraung, dengan medan pencarian ekstrem dan sulit dijangkau.

Setelah berhasil diamankan, PEC dibawa ke Posko Utama SAR Gabungan di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci. Komandan Kompi Senapan (Dankipan) C Yonif 433/Julu Siri, Kapten Inf Yoan Steeven Pulo, menceritakan proses pencarian hingga penemuan bagian pesawat tersebut.

Menurutnya, tim gabungan mulai melakukan penyisiran sejak Selasa (20/1) pagi sekira pukul 09.00 Wita. Penyisiran dilakukan oleh Tim 4 dan Tim 5 dengan total kekuatan 35 personel. Tim tiba di sisi selatan Bulusaraung sekira pukul 13.30 Wita dan mulai menemukan serpihan pesawat.

Jenazah Pramugari Florencia

Jenazah pramugari ATR 42-500 Indonesia Air Transport, Florencia ‘Olen’ Lolita Wibisono (33), diberangkatkan ke Jakarta dari Makassar, Rabu (21/1). Jenazah Olen dilepas dari Posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel, Jl Kumala, Kota Makassar, sekitar pukul 16.38 Wita.

Mobil jenazah Biddokkes Polda Sulsel bernomor polisi 22116-XIV membawa jenazah dengan nomor postmortem 62B.01 keluar dari halaman posko. Keberangkatan mobil jenazah dikawal ketat aparat TNI dan Polri.

Dua kakak korban, Natasha Wibisono dan Velix, ikut mendampingi jenazah Florencia menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. “Kami bawa ke Jakarta,” katanya singkat sebelum mobil jenazah meninggalkan lokasi.

Identifikasi Jenazah

Jenazah Florencia selanjutnya dibawa ke Bandara Sultan Hasanuddin untuk diterbangkan ke Jakarta. Sebelumnya, jenazah telah menjalani seluruh prosedur identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel.

Tim DVI memastikan data postmortem korban telah dicocokkan dengan data antemortem keluarga. Pencocokan meliputi sidik jari, data gigi, serta dokumen medis pendukung. Dengan hasil tersebut, identitas korban dipastikan secara akurat. Suasana haru menyelimuti prosesi pelepasan jenazah.

Velix menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak terlibat dalam proses pencarian, evakuasi, dan identifikasi. “Kami mewakili keluarga Florencia mengucapkan terima kasih kepada Basarnas, TNI-Polri, Biddokkes Polda Sulsel, PSDKP KKP, serta perusahaan tempat adik kami bekerja,” ujarnya.

Ia berharap korban lain yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan. Sementara itu, Kepala Pusat Identifikasi Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi, menjelaskan identifikasi korban dilakukan melalui pemeriksaan sidik jari. Menurutnya, kondisi jenazah masih memungkinkan dilakukan identifikasi karena papillary ridges atau garis sidik jari masih terbaca.

“Sehingga kami langsung mengambil sidik jari dan bisa membaca identitas yang bersangkutan,” kata Mashudi. Identifikasi diperkuat dengan pembandingan sidik jari jempol tangan kiri korban dengan data pembanding. “Secara keilmuan kami meyakini yang bersangkutan adalah Florencia,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *