Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan Melambat pada Kuartal Terakhir 2025
Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan (Korsel) melambat pada kuartal terakhir tahun 2025. Hal ini terjadi di tengah tekanan dari penurunan investasi konstruksi dan pelemahan ekspor, meskipun konsumsi domestik masih mencatatkan kenaikan terbatas. Berdasarkan data awal yang dirilis oleh Bank of Korea, ekonomi Korsel tumbuh sebesar 1,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada periode Oktober–Desember 2025.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan ekonom sebesar 1,9 persen dan melambat dibandingkan pertumbuhan 1,8 persen pada kuartal sebelumnya, yang merupakan laju tercepat dalam lebih dari setahun. Dari sisi kuartalan (quarter-on-quarter/qoq), PDB Korsel tercatat menyusut sebesar 0,3 persen. Ini menjadi kontraksi terdalam sejak kuartal keempat 2022.
Survei ekonom yang dilakukan Reuters sebelumnya memperkirakan bahwa PDB Korsel akan tumbuh tipis sebesar 0,1 persen pada periode tersebut. Untuk keseluruhan tahun 2025, ekonomi Korsel hanya tumbuh 1 persen. Laju pertumbuhan ini menjadi yang paling lambat sejak 2020, ketika output ekonomi menyusut 0,7 persen akibat pandemi Covid-19.
Faktor Penyebab Perlambatan Ekonomi
Dari sisi pengeluaran, pelemahan terutama datang dari investasi. Investasi konstruksi menyusut 3,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, seiring menurunnya aktivitas pembangunan gedung dan proyek teknik sipil. Investasi fasilitas juga turun 1,8 persen, dipimpin oleh penurunan belanja peralatan transportasi.
Kinerja ekspor Korsel turut melemah. Pengiriman barang ke luar negeri turun 2,1 persen secara kuartalan, terutama akibat penurunan ekspor kendaraan bermotor dan mesin. Dari sisi produksi, sektor manufaktur menyusut 1,5 persen, sementara sektor pasokan utilitas, yang mencakup listrik, gas, dan air, turun tajam sebesar 9,2 persen.
Konsumsi Domestik Masih Tumbuh Terbatas
Di tengah tekanan dari sektor investasi dan ekspor, konsumsi domestik masih menunjukkan pertumbuhan moderat. Konsumsi swasta meningkat 0,3 persen, didorong oleh kenaikan pengeluaran untuk jasa. Sementara itu, belanja pemerintah naik 0,6 persen, seiring meningkatnya pengeluaran untuk tunjangan perawatan kesehatan.
Kesepakatan Dagang dengan AS dan Dinamika Tarif
Pada November 2025 lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mencapai kesepakatan perdagangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kesepakatan tersebut mencakup komitmen investasi Korea Selatan sebesar 150 miliar dollar AS di sektor galangan kapal AS, serta tambahan janji investasi senilai 200 miliar dollar AS. Sebagai imbalannya, pemerintahan Trump sepakat menurunkan tarif mobil dan suku cadang mobil asal Korea Selatan menjadi 15 persen dari sebelumnya 25 persen.
Ekspor 2025 Cetak Rekor di Tengah Ketidakpastian
Secara tahunan, kinerja ekspor Korea Selatan pada 2025 relatif stabil meski ketidakpastian perdagangan global meningkat. Nilai ekspor mencapai rekor 709,7 miliar dollar AS, naik 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama ditopang lonjakan pengiriman semikonduktor sebesar 22 persen, seiring meningkatnya permintaan chip kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Namun, prospek ekonomi yang berorientasi ekspor tersebut kembali dibayangi ketegangan tarif. Pekan lalu, Trump memberlakukan tarif 25 persen terhadap impor chip AI tertentu sebagai bagian dari upaya mendorong produksi semikonduktor di Negeri Paman Sam. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sebelumnya menyatakan, produsen chip dari Korea Selatan dan Taiwan dapat menghadapi tarif hingga 100 persen, kecuali mereka berkomitmen meningkatkan produksi di AS.
Inflasi Terkendali, Won Terus Melemah
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Korea Selatan tercatat turun menjadi 2,1 persen pada 2025, dari 2,3 persen pada 2024. Angka ini secara umum sejalan dengan target inflasi bank sentral sebesar 2 persen. Pekan lalu, Bank of Korea memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 2,5 persen.
Otoritas moneter menilai stabilitas keuangan perlu menjadi prioritas, di tengah pelemahan tajam nilai tukar won dan percepatan arus keluar modal. Nilai tukar won telah melemah lebih dari 6 persen terhadap dollar AS sejak Juli tahun lalu dan berada di dekat level terendah dalam 16 tahun. Pelemahan ini antara lain dipicu oleh meningkatnya pembelian saham AS oleh investor ritel Korea.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Korsel 2026 Direvisi Naik
Di tengah perlambatan ekonomi, Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan pekan lalu menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB 2026 menjadi 2 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya pada Agustus 2025 lalu, yang sebesar 1,8 persen.
