Azerbaijan: Kehidupan Purba, Jalur Sutra, Raksasa Minyak Soviet, atau Kota Futuristik?

Posted on

Pengalaman Pribadi di Azerbaijan, Negeri Api yang Menyala

Sebagai seorang arsitek dengan latar belakang bangunan-bangunan khas eks Soviet, saya merasa terhubung secara emosional ketika berada di Baku, ibukota Azerbaijan. Kota ini memiliki Flame Tower sebagai ikonnya, sebuah bangunan pencakar langit yang dirancang seperti kobaran api. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini, saya merasakan getaran jiwawi yang sangat kuat.

Azerbaijan adalah salah satu negara yang membuat saya ingin mengeksplorasi setiap sudutnya. Dalam 6 hari perjalanan saya, saya mencoba memahami segala hal tentang negara ini, baik dari segi sejarah, budaya, maupun arsitektur. Tidak hanya itu, saya juga merasakan keunikan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.

Azerbaijan dikenal sebagai “negeri api” karena banyaknya minyak bumi yang ada di bawah permukaan tanahnya. Minyak ini telah menjadi tulang punggung ekonomi negara ini sejak dahulu kala. Selain itu, agama Zoroaster, yang katanya merupakan agama tertua di dunia, juga berkembang di sini. Di samping itu, terdapat Kuil Api Atashgah, tempat api yang muncul dari bawah tanah dan tidak pernah padam sejak abad ke-17.

Ketika saya menjelajahi Baku selama 6 hari, saya menyadari bahwa kota ini adalah campuran antara sejarah kuno, warisan Soviet, dan modernitas yang pesat. Kota ini memiliki kontras yang luar biasa. Di satu sisi, ada jalan-jalan berbatu di Kota Tua Baku dan landmark-iconic yang menunjukkan kemajuan modern. Di sisi lain, ada bangunan-bangunan khas Soviet yang masih bertahan hingga saat ini.

Baku juga dikenal dengan identitas multikulturalnya. Di sini, masjid, sinagoge, dan gereja berdiri berdekatan, menunjukkan kehidupan yang harmonis meskipun Azerbaijan adalah negara Muslim. Ruang hijau dan desain modern melengkapi pemandangan kota ini, yang terus berkembang pesat sejak kemerdekaannya pada tahun 1991.

Saya dan Zoyir, pemandu wisata saya, sering berjalan kaki untuk merasakan detak jantung kota Baku. Meskipun saya menggunakan kursi roda, saya tetap merasakan energi yang luar biasa dari kota ini. Bahkan ketika saya mengunjungi Gobustan, yang berjarak sekitar 64 km dari Baku, dadaku semakin menyala dan saya merasa sangat antusias untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Di Baku, saya merasa seperti tersesat dalam paradoks yang hidup. Ada tiga dunia yang tampaknya berada dalam alam semesta paralel: Baku purba di Kota Tua, Baku eks Soviet dengan arsitektur dan permukimannya, serta Baku modern dengan bangunan-bangunan super modern.

Selain itu, saya juga merasakan angin yang berhembus dari Danau Caspia. Angin ini terasa nyata dan terus-menerus, seperti sejarah yang membentuk kota ini. Saya merasakan denyut jantung saya berdetak lebih keras, seolah-olah angin yang sama telah berhembus sejak berabad-abad lalu.

Kehidupan kota Baku yang terus berubah dari masa purba hingga sekarang terus menari-nari dalam bayangan pikiran saya. Ini membuat saya terus excited dan ingin berbagi inspirasi-inspirasi yang saya dapatkan kepada dunia, terutama bagi Indonesia.