Dugaan Pelanggaran Prosedur di Balik Kecelakaan Pesawat ATR 42-500, Direktur Utama Beri Penjelasan

Posted on

Penjelasan Direktur Utama AirNav Indonesia Mengenai Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, telah memberikan penjelasan terkait peran ATC dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang menabrak Gunung Bulusaraung. Ia menegaskan bahwa tidak ada instruksi dari ATC yang menyuruh pesawat terbang menuju kawasan pegunungan sebelum kecelakaan terjadi.

Avirianto menjelaskan bahwa arahan ATC kepada pesawat sesuai dengan prosedur pendaratan ke runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan. Ia menekankan bahwa seluruh instruksi diberikan sesuai dengan standar operasional dan tidak ada yang memerintahkan pesawat masuk ke jalur pegunungan.

Runway 21 dan Faktor Cuaca

Dalam rapat kerja di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Avirianto menjelaskan bahwa pemilihan runway 21 didasarkan pada kondisi angin yang memengaruhi performa pesawat. Ia mengatakan bahwa jika prosedur diikuti secara benar, pesawat tidak akan melenceng hingga memasuki wilayah Bulusaraung.

Meski jalur pendaratan runway 21 berada dekat area pegunungan, Avirianto menegaskan bahwa penggunaan runway tersebut merupakan hal yang lazim di Bandara Sultan Hasanuddin. Pesawat yang mengikuti prosedur seharusnya tidak sampai memasuki kawasan pegunungan.

Pertanyaan dari Komisi V DPR

Ketua Komisi V DPR, Lasarus, meminta klarifikasi tegas mengenai apakah arahan ATC terkait kecelakaan tersebut. Ia bertanya apakah pesawat diarahkan dari posisi gunung oleh ATC. Avirianto menjawab bahwa tidak ada arahan dari ATC untuk itu.

Ia juga menegaskan bahwa kondisi cuaca menjadi alasan utama penggunaan runway 21. Menurutnya, karena cuaca, pesawat harus diarahkan ke runway 21.

Proses Pendaratan dan Kebablasan Pesawat

Avirianto menuturkan bahwa pendaratan melalui runway 21 merupakan hal yang lazim di Bandara Sultan Hasanuddin. Pesawat yang mengikuti prosedur seharusnya tidak sampai memasuki kawasan pegunungan.

Namun dalam kasus ini, pesawat tidak berbelok menuju bandara, melainkan kebablasan hingga menabrak Gunung Bulusaraung. Ia menegaskan bahwa KNKT akan melakukan investigasi menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan.

Alasan Penggunaan Runway 21

Lasarus menyoroti alasan mengapa pesawat tidak dialihkan ke runway lain, mengingat ATR 42-500 tidak membutuhkan landasan pacu panjang. Avirianto menjelaskan bahwa pengaturan runway tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan seluruh lalu lintas penerbangan di bandara.

Ia menambahkan bahwa antrean pesawat di bandara juga memengaruhi penggunaan runway. Jika runway diubah, maka seluruh lalu lintas penerbangan akan terpengaruh.

Kritik DPR: Putar di Laut Saat Cuaca Buruk

Lasarus mengungkapkan keheranannya terkait tidak adanya perintah dari ATC agar pesawat berputar di atas laut saat cuaca memburuk. Menurutnya, dalam situasi cuaca ekstrem, wilayah pegunungan seharusnya dihindari sepenuhnya.

Ia bahkan mengaku telah berdiskusi dengan banyak pilot sebelum menyampaikan pandangannya dalam rapat. Lasarus menutup pernyataannya dengan kalimat tegas: “Singkat ceritanya, Pak. Kalau cuaca buruk bukan ke gunung.”

Black Box Pesawat ATR 42-500 Ditemukan

Akhirnya black box pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan oleh Tim SAR. Meski sudah ditemukan, keberadaan black box tersebut belum bisa diamankan, mengingat kondisi yang belum memungkinkan.

Black box terletak di bagian ekor pesawat ATR 42-500 PK-THT. Sebagai informasi, black box (kotak hitam) menjadi benda yang paling dicari setelah terjadinya kecelakaan pesawat terbang.

Sebagai perangkat vital, black box berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam parameter penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, hingga percakapan pilot. Meski dikenal sebagai kotak hitam, perangkat ini justru berwarna oranye terang agar mudah ditemukan dan dirancang tahan benturan serta suhu ekstrem.

Temuan black box nantinya akan menjadi kunci utama untuk mengungkap rangkaian peristiwa sebelum pesawat mengalami kecelakaan, sekaligus menjadi bahan evaluasi penting bagi peningkatan keselamatan penerbangan ke depan.

Tantangan dalam Evakuasi Black Box

Untuk menjangkau area tersebut, Tim SAR Gabungan harus menyiapkan strategi khusus. Personel memerlukan tali sepanjang sekitar 100 meter dari Pos 8 untuk melakukan teknik grappling atau repling menuruni lereng curam menuju badan pesawat.

Kondisi geografis menjadi tantangan utama. Selain kemiringan tebing yang ekstrem, permukaan lokasi didominasi bebatuan dan minim pijakan, sehingga setiap pergerakan harus dilakukan dengan perhitungan matang.

Basarnas Makassar juga telah berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan titik pasti keberadaan black box sebelum proses evakuasi dilakukan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *